Dalam meraih mimpi,
dalam bangkit lagi setelah jatuh berkali-kali,
aku merasa sendiri.
Tapi justru di titik itu aku menyadari:
kekuatan sebenarnya bukan datang dari banyaknya orang di sekeliling,
melainkan dari hadirnya Allah, yang tak pernah benar-benar pergi.
Aku bukan tanpa luka,
tapi aku memilih untuk tidak berhenti.
Aku bukan tanpa rasa takut,
tapi aku tak membiarkannya menguasai langkahku.
Aku akan mendukung diriku sendiri,
habis-habisan.
Karena aku tahu,
selama aku berpihak pada Allah,
aku tidak akan benar-benar kalah.
Dan saat semua terasa berat,
aku akan duduk sejenak,
menyandarkan lelahku kepada Allah,
lalu melanjutkan langkah—walau pelan.
Karena ini bukan tentang siapa yang tercepat,
tapi siapa yang tetap berjalan,
meski hanya bersama Allah dan dirinya sendiri.
“Cukuplah Allah menjadi Penolongku, dan sebaik-baik sandaran adalah Dia.”
Jangan takut untuk berdoa kepada Allah. Meskipun kita merasa tidak layak, Allah selalu mendengar. Tidak peduli berapa kali kita jatuh, Allah tetap menyambut dengan kasih sayang-Nya. Pintu rahmat-Nya selalu terbuka untuk kita yang ingin kembali.