Aku baru saja melihat postingan Gia.
Ia tertawa. Ia memeluk Nindy. Ia mencium perut yang bukan miliknya—tapi sekarang menjadi miliknya sepenuhnya.
Dan aku… hanya menatap dari layar. Seperti penonton film yang tak pernah diminta ikut main.
Sakit.
Bodohnya aku masih berharap… bahwa mungkin, hanya mungkin, ada ruang kosong di sana yang masih menungguku. Tapi nyatanya, mereka terlihat utuh. Tanpa aku.
Aku benci melihat mereka cocok.
Aku benci bahwa bagian dari diriku diam-diam ikut bahagia melihat Gia akhirnya tersenyum lagi.
Dan itu yang paling menyakitkan.
Karena aku nggak tahu harus marah ke siapa.
Gia?
Nindy?
Atau… diriku sendiri, karena terlalu lama memupuk harapan yang nggak pernah tumbuh?
Kenapa ya, aku nggak bisa marah ke Gia?
Padahal dia pergi. Dia milih jalan tanpa aku.
Padahal, aku pernah jadi tempat pulangnya. Tempat nyamannya. Bahkan tempat pelariannya saat dunia begitu berisik.
Tapi aku juga yang selalu kalah.
Kalah sama Nindy. Kalah sama luka Gia yang aku nggak bisa sembuhkan.
Kalah karena aku bukan orang yang dia lihat saat ingin membangun "rumah."
Waktu itu kan kita lagi latihan dance bareng-bareng, terus tiba-tiba ada yang kepeleset gitu. Kaget dong semua. Padahal udah latihan berkali-kali, tapi ya namanya juga manusia kan. Untung gak papa sih, malah jadi ketawa-ketawa bareng.